Postingan

UN Berbasis Minat dan Bakat, Kenapa Tidak?

Gambar
Polemik tentang Ujian Nasional (UN) sepertinya masih menjadi persoalan yang belum bisa terselesaikan. Diskusi tentang masihkah perlu UN menjadi standar evaluasi pendidikan dan penentuan kelulusan siswa nampak tetap menggeliat hingga saat ini. Padahal Mahkamah Agung (MA) pada 14 September 2009 telah mengeluarkan keputusan yang inkrah terkait dengan penghapusan UN ini. MA menyatakan pemerintah dianggap telah menjadi penyebab gangguan psikologis dan mental sebagai dampak adanya UN selama ini. Lantas apakah persoalannya ada pada UN atau justru sistem pendidikan secara keseluruhan yang belum mampu memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945? Beberapa waktu yang lalu kita disuguhkan video viral tentang presentasi seorang pengacara di depan hakim, kritikan pedas tentang sistem pendidikan dalam video tersebut adalah jangan paksa “ikan untuk belajar memanjat pohon.” Pernyataan pengacara tersebut sangat relevan dengan kondisi riil pendidikan di Indonesia. Penentuan lulus tidaknya anak bangsa diten…

Penolakan yang sangat Berkesan

Masih Ada Orang seperti ini

Gambar
Wajah beliau nampak lebih tua dari pada usianya. Pakaiannya sangat tidak fashionable, kalau tidak mau dikatakan bajunya jelek. Kesehariannya sangat sederhana, super sederhana malah. Padahal dari sisi penghasilan, jika beliau mau, bisa saja beliau berdandan ala eksekutif muda. Rapih, berdasi, bawa mobil, pakai gadget super canggih atau gambaran eksekutif muda pada umumnya. 
Usianya selisih 2 tahunan dari saya, tapi untuk persoalan dakwah, juaaauuuhhh sekali perbedaannya. Sebut saja namanya Mas Galon, saya sengaja menyamarkan nama beliau, agar saya tidak merusak keikhlasan beliau dalam beramal dan beribadah. Mas Galon ini memang sambilannya jualan, salah satu usahanya isi ulang air galon, jadi izinkan saya memberi nama panggilan beliau Mas Galon :D. Oh ya Kenapa saya bilang sambilannya jualan, karena versi saya, beliau ini kerjaannya ibadah, sisanya baru buat kerja.hhe.
Saya benar-benar kenal beliau sekitar setahunan ini. Lebih tepatnya saat saya mulai tinggal di Jogja secara "te…

Tetap (Harus) Belajar Objektif

Hingar-bingar Pilpres 2019 sudah mulai terasa panasnya. Perdebatan apapun, dimanapun dan kapanpun seringkali berujung pada Jokowi lanjut 2 periode atau cukup 1 periode saja. Tak patut sepertinya kita sebagai bangsa yang berbudaya dan beragama ikut larut dalam perdebatan tak berujung seperti yang dipertontokan Bung Adian Napitulupu dan Bung Mardani Ali Sera di acara ILC beberapa hari yang lalu.

Setiap orang memiliki perspektif tersendiri terhadap suatau kebenaran yang diyakini, dan seringkali kesalahan terbesar seorang yang mengaku pintar adalah memaksakan perspektifnya agar setiap orang mengakui kebenarannya. Mustahil.

Saya pribadi sebagai warga negara Indonesia, Kader Pramuka, Muslim, Pekerja NGO - (perlu saya sebutkan agar latar belakang ini memperjelas posisi saya), mengakui bahwa Presiden Jokowi layak untuk diapresiasi. Apa yang telah beliau lakukan banyak membawa catatan positif dalam perjalanan negara ini. Sebut saja beberapa hal berikut ini :
Dukungan diplomatis terhadap Palestin…

Cinta itu….

Gambar
Cinta itu…. Marah kemudian tersenyum, Cemburu kemudian tersipu malu, Menangis kemudian tertawa,
Ahhh cinta memang seperti itu… Tak pernah benar-benar mengerti, Tak pernah benar-benar bisa dipahami,
Tapi aku tahu, cintaku…  Saat makan sepiring berdua, Saat hafalan bersama, Saat naik motor bersama, Saat melangkahkan kaki bersama Saat aku, kamu dan mereka menjadi kita…





Tim Jokowi Blunder (LAGI)

Entah sudah berapa kali, lingkaran dalam Pak Jokowi membuat kesalahan yang sangat meresahkan masyarakat. Benar-benar tepok jidat saya sama oknum yang ada di lingkaran Pak Jokowi. Tentu kita masih ingat dengan jelas bagaimana kepanikan oknum simpatisan Tim Ahok di masa injury time tetiba ada yang terang-terangan bagi-bagi sembako dan yup keesokan harinya masyarakat semakin mantap menetapkan pilihan ke siapa. 
Kasus video penolakan Gubernur oleh Paspampres untuk ikut turun di lapangan beberapa waktu yang lalu jelas mengindikasikan bahwa lingkaran dalam Presiden Jokowi juga mulai panik menyambut Pilpres 2019. Orang awam seperti saya bisa bilang demikian karena logika apapun yang digunakan sebagai alasan benar-benar tidak masuk akal. Beberapa menteri pembantu Presiden bilang itu aturan protokoler dan alasan kemanan, lha emang Pak Anies kalau ikut rombongan turun ke lapangan akan jadi bahaya? ada indikasi bawa bom gitu? atau tetiba menggunakan “rasengan” untuk menghancurkan seluruh penont…

Belajar dari “Ketidakbisingan” Yogyakarta

Gambar
Entah sudah berapa juta orang yang menuliskan kekagumannya terhadap Yogyakarta. Yang jelas daerah ini memang benar-benar istimewa, setidaknya itu yang saya rasakan setelah beberapa bulan berada di sini. 
Sebagai seorang perantau saya merasa tergelitik untuk mencoba membandingkan kota ini dengan beberapa kota yang pernah saya tinggali. Tentu bukan dalam rangka menyudutkan atau mengugulkan satu daerah dengan daerah lain, karena saya selalu yakin setiap daerah memiliki kekhasannya masing-masing. Membandingkan capaian menurut saya akan membuat kita lebih obyektif dalam menilai prestasi yang telah kita capai. Weleh ngomong opo to aku iki 😅😅😅
Ada beberapa hal yang menurut saya menjadi capaian luar biasa dari Yogyakarta, setidaknya untuk aspek-aspek yang saya merasakan dengan betul bagaimana prosesnya sekaligus melihat hasilnya sehingga ada keberanian untuk memberikan pendapat, ya meskipun tetap sangat subyektif,hhe berikut diantaranya : a. Pelayanan Publik b. Pendidikan c. Sistem Layana…

Mungkin ini Penyebab Korupsi tak Pernah Mati di Negara ini. (Bagian 1)

Gambar
Kawan kalau berkenan mohon menjawab pertanyaan saya dalam tulisan ini nggeh. Ini bukan soal CPNS atau rekrutmen BUMN, pertanyaan ini hanya sekedar ungkapan hati dari buruh NGO seperti saya yang ingin berbagi "kenyataan." hhee
SATU Jika anda akan menjadi kepala sekolah kemudian sebelum pengumuman anda ditelpon oleh oknum dan diminta membayar sekian puluh atau ratus juta, apa yang akan anda lakukan?  a. Membayar sesuai keinginan oknum b. Nego harga sesuai dengan kemampuan keuangan anda c. Menolak dengan tegas karena hal ini merupakan praktik KKN
Tidak sulit kan untuk menjawabnya? Iya saya yakin pada soal ini kawan semua pasti menjawab opsi "c." Dan saya yakin mayoritas orang Indonesia akan dengan mudah menjawab pertanyaan ini. Kemampuan menjawan soal yang tidak usah diragukan lagi. Sayangnya, pertanyaan ini tidak mudah dijawab dalam kondisi nyata. Banyak oknum Kepala Sekolah di negara ini yang lahir dari "rahim" transaksi seperti di opsi a atau b. Datanya mana? K…

Rendahnya PENYERAPAN bukan PENGHEMATAN

Gambar
Kangmas dan Diajeng, mohon ijin share sedikit pengetahuan yg ditunjang dengan pengalaman saya terkait pemahaman penyerapan anggaran di suatu daerah. Menjadi buruh NGo sejak tahun 2012 membuat saya sedikit memahami fenomena ini.
Dahulu, saya seringkali reaksioner melihat kenyataan bahwa salah satu indikator berhasil tidaknya suatu daerah (lebih tepatnya K/L/D/I) adalah terkait kemampuan mereka dalam menyerap anggaran. Logika awam saya waktu itu, kalau memang sisa ya jangan dihabisin kan negara bisa hemat. Aneh sepertinya kalau indikator keberhasilan didasarkan pada kemampuan membelanjakan uang negara. Maka jangan heran dulu, sebelum para oknum ASN yang merangkap profesi sebagai koruptor bebas melaksanakan aksinya, diakhir tahun proyek menumpuk. Gak tahu gimana caranya yang terpenting uang negara habis. Itulah salah satu alasan kenapa saya begitu reaksioner dengan pendekatan ini, karena memaksa orang secara tidak langsung untuk berperilaku korup.
Semakin ke sini saya semakin paham, kesal…

Andaikan Cina itu Xiaomi dan Amerika itu Apple

Gambar
Beberapa hari yang lalu, saya share berita yang saya anggap berita positif tentang keberanian pemerintah terkait IUPK Freeport. Respon teman-teman yang komen menarik, setidaknya ada tiga macam komen yang dapat saya simpulkan. Pertama mendukung kebijakan tersebut, kedua mencaci dan berpikir akan pindah ke tangan Cina, serta yang ketiga tidak mendukung dan mencaci tapi berharap Indonesia bisa mengelola tambang tersebut secara mandiri.
Setiap ada yang komen intinya lari ke Cina, saya selalu bertanya mana yang lebih baik untuk Indonesia, Cina atau Amerika? Dan sayangnya tidak ada yang mau menjawab. Saya paham arahnya, hanya memang tidak bisa dinafikkan bahwa kekuatan ekonomi terbesar di dunia ini hanya tinggal dua, Cina dan Amerika.
Saya coba berandai-andai berbicara tentang kebijakan Cina dan Amerika dengan membandingkan dengan cara bisnis kedua merk hp ternama di dua negara tersebut. Alhamdulillah saya menggunakan salah satu produk dari kedua brand ternama tersebut, apple dan xiaomi. Anal…

Pelayanan (Oknum) ASN vs Pegawai Bank

Gambar
Mencoba membandingkan. Jika kita coba cermati lebih detail lagi, salah satu Bank BUMN, Bank BRI sebelum tahun 2000-an hanya dianggap sebagai bank "kampung" yang standar pelayanannya jauh dari kata profesional. Namun setelah era reformasi, Bank BRI bertransformasi menjadi Bank yang sangat ramah dan profesional pelayanannya. 
Pengalaman saya bekerja di Bank Mandiri juga demikian, setiap karyawan seperti benar-benar paham jika semua perbuatan fraud adalah hina, keji dan sangat tidak pantas untuk dilakukan. Hampir semua rekan saya, saat di CBC Mandiri, menolak saat diberikan "upeti" bahkan sampai dilarang menerima kue sekalipun dari nasabah. Entah doktrin apa yang diberikan, tapi mereka benar-benar paham bahwa fraud benar-benar tidak boleh dilakukan.
Karena kesejahteraan kah? Saya pikir tidak juga, gaji pegawai bank dari level clerk sampai officer sebenarnya tidak besar-besar amat. Saya coba bandingkan dengan gaji PNS. Standar gaji PNS plus tunjangan-tunjangan lainnya se…

Belajar Baik (Mahluk itu Bernama Media Sosial)

Gambar
Pernahkah kita memposting di media sosial entah facebook, instagram, twitter, path dan mahluk medsos sejenisnya tentang aktivitas ibadah kita? Misalnya beberapa contoh di bawah ini :
“Alhamdulillah, buka hari ini terasa begitu nikmat.”  “Saat yang tepat untuk bersujud,” update status pas bangun di tengah malam. “Bersyukur tahun ini bisa berqurban 1 ekor sapi,” posting status sambil upload photo sapi yang telah dieksekusi oleh jagal.  “Tempat yang sangat indah, alhamdulillah bisa datang di rumah Allah,” update status sambil upload photo di depan ka’bah saat umroh.  “Bersyukur bisa menjadi bagian dari pembela alqur’an,” update status sambil wefie bareng teman-teman saat aksi. “Ikut majelis ilmu dulu biar tambah kece,” posting status sambil upload photo sedang ikut majelis ilmu bareng ustadz terkenal misalnya.  “Jum’atan dulu biar tambah ganteng,” posting status sambil selfie dengan baju muslim.  “Di balik setiap ujian pasti ada hikmah yang bisa diambil,” posting status sambil selfie de…

Komunikasi Politik ala Tukang Mebel

Gambar
Masih segar diingatan kita bagaimana peristiwa tanggal 4 November 2016, bagaimana Presiden Jokowi jadi bulan-bulanan hampir mayoritas seluruh rakyat facebook dan twitter di Indonesia. Keputusan Jokowi untuk tidak menemui jutaan massa yang aksi pada saat itu bagi mayoritas rakyat Indonesia justru malah memperkeruh suasana. Termasuk saya dan istri saya yang sampai harus diskusi panjang lebar kali tinggi untuk saling memberikan analisis masing-masing,hhee. Seorang Jokowi yang tenar karena kedekatannya dengan rakyat memilih untuk menengok proyek bandara daripada menemui Ulama dan para Kyai yang datang dari seantero daerah di Indonesia. Saya pun menyayangkan keputusan beliau untuk tidak menemui rakyatnya. 
Hanya saja saya paham satu hal bahwa dibalik semua keputusan yang kita ambil, membuat semua orang merasa senang dengan keputusan yang kita ambil adalah salah satu tindakan paling tidak masuk akal di dunia ini. Selalu saja ada orang yang suka dan tidak suka, selalu ada orang yang memuji …

Belajar Cinta

Gambar
Taaruf dan Guru “Ngaji”
Cinta, sesuatu hal yang sampai kapanpun akan tetap abstrak untuk diterjemahkan. Seperti yang aku rasakan waktu itu. Bulan April tahun 2013 entah tepatnya tanggal berapa, aku bukan orang yang pintar mengingat tanggal kejadian. Panasnya Kota Kendari saat itu, seperti tak mampu meredam berbagai gejolak yang muncul dalam jiwaku. Nafsukah itu? entahlah aku juga tidak tahu. Yang jelas kala itu, aku merasakan ada keyakinan yang begitu dalam saat melihat aktivitasmu dalam sebuah photo. Photo yang menggambarkan bagaimana kau sangat mencintai profesimu, guru “Ngaji” anak-anak. 
Bagiku guru “Ngaji” adalah profesi yang sangat mulia. Kau tahu kenapa kawan? Karena guru “Ngaji” mayoritas bekerja bukan karena uang. Tapi karena niat tulus ingin membantu anak-anak agar mereka kenal terhadap Sang Pemilik Hidup, Allah SWT.  Sepertinya tak ada lagi pekerjaan yang lebih mulia dari sekedar berharap ridho Allah SWT. Geliat dunia yang semakin mengaburkan nilai tulus sebuah pengadbdian…